Pages

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 16 Juni 2014

60 Detik di dalam Bilik

60 Detik di dalam Bilik

60 detik di dalam bilik, berharap temukan yang terbaik
Ikhtiyar rakyat kecil untuk negeri yang telah lama terlelap dalam jahil
Sekadar harapan bukan angan-angan
Harapan baru, harapan untuk maju
Harapan satu, harapan yang tertuju
Harapan dua, harapan untuk semua
Harapan tiga, harapan sepanjang masa
Harapan empat, harapan yang terpatri kuat
Harapan lima, harapan yang nyata
60 detik di dalam bilik, semoga temukan yang buta
Buta akan berbuat dosa
Buta akan menimbun harta
Buta akan menjual asset bangsa
Dan buat akan berkuasa
60 detik di dalam bilik, berikan kami yang terbaik


Muhammad Musadat: Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah FSSR UNS semester 4.

Ku Mau

Ku Mau

Aku berlayar dalam luas lautan
Tapi mampukah?
Hadapi badai dan balut gelap waktu
Serta mendung yang menutup langit biru
Aku gelap arah
Aku resah
Secercah cahaya musnah
Kucoba cari celah
Tapi yang kutemui hanya fatamorgana
Apakah begitu sulitnya?
Menepis kecewa menjadi asa
Aku mencari-Mu
Tuhanku
Ku ingin KAU hapus kecewa dan luka
Dengan dating bawa harap yang nyata
Walau kutahu dunia ini fana


Isnatin Khusna: Mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah FSSR UNS semester 2.

Profil Pramoedya Ananta Toer

Profil Pramoedya Ananta Toer


P
ramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa Pram adalah salah satu sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Ia merupakan anak sulung Bapak Mastoer dan Ibu Oemisaidah. Pram lahir di Bolra, Jawa Tengah 6 Februari 1925.

Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 41 bahasa asing. Pram yang pernah bekerja sebagai juru ketik dan korektor di Domei lebih memilih untuk menjadi seorang penulis. Ia telah menghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel sehingga melambungkan namanya sejajar dengan sastrawan dunia. Karya Pram yang penuh dengan kritik social membuatnya sering keluar masuk penjara.

Pram pernah ditahan tiga tahun pada masa colonial dan satu tahun pada masa orde lama. Kemudian selama orde baru ia ditahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan. Di masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan sering kali di tempatkan di Jakarta akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan bukunya sepanjang karier militernya dan dipenjara Belanda pada 1948 dan 1949. Tahun 1950 ia tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran Budaya dan saat kembali ia menjadi angota lekra, organisasi sayap kiri Indonesia.

Beberapa karya Pram dilarang untuk dipublikasikan karena dianggap mengganggu keamanan Negara pada masa Presiden Soekarno maupun Soeharto. Semisal pada tahun 1960-an, ia ditahan pemerintahan Soeharto, karena pandangan Pro-komunis Tiongkoknya. Meskipun demikian, Pram banyak mendapatkan penghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri.

Ironisnya potret kehidupan Pram dibenci di negeri sendiri tetapi dihargai dunia sehingga membuatnya tetap optimis dan tidak pernah berhenti bekerja. Ketika Pramoerdya mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada 1995, banyak tokoh yang melancarkan protesnya. Beberapa tokoh-tokoh tersebut seperti Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, dan HB Jassin. Tokoh-tokoh tersebut protes karena Pram dianggap tidak pantas untuk menerima penghargaan Ramon Magsaysay.

Dalam berbagai opini-opini di media massa, para penandatanganan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Mereka menuntut pertanggungjawaban Pram untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’. Semenjak orde baru Pram memang tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri. Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun  kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok.

Tepat pada 27 April 2006 kesehatan Pram memburuk. Ia didiagnosis menderita radang paru-paru, ditambah komplikasi ginjal, jantung dan diabetes. Upaya keluarga untuk merujuknya ke rumah sakit tidak banyak membawa hasil. Tepat tanggal 30 April 2006 kita telah kehilangan sosok sastrawan besar.

Sumber:
id.wikipedia.org/wiki/Pramodya_Ananta_Toer

pawonsastra.blogspot.com/2008/04/biografi-singkat-pramodya-ananta-toer.html?m=1